Kepasrahan Seorang Pegawai vs Idealisme Mahasiswa

20 Mar 2013

Saat memulai diskusi dengan orang dewasa, beliau memulai mempersilahkan bertanya kepadaku tentang apa saja isu sekarang yang sedang hangat. Aku memilih membahas korupsi. Tersebutlah nama seorang aparat atau keparat itu namanya (gak tau pasti) yang mendapat bonus dari anak buahnya sendiri (bukanya kebalik yah), pengakuan tidak sengaja itu aku dapatkan dari anak pejabat tersebut yang kemana-mana dikawal orang banyak (orang/banyak “bebek”).

Aku sebut ayahnya korupsi. Dia tidak terima dan menganggapnya hal itu wajar, namun bagi temanku yang ayahnya memiliki perusahaan hal itu sangat kurang ajar hingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk berhenti berwiraswasta walpun pajaknya usahanya baru saja diperpanjang. Akhirnya perdebatan aku dan anak pejabat itupun menghasilkan celotehan : klo gak korupsi kapan bisa beli mobil DLL.

Akhirnya mengaku juga ini orang ujarku dalam hati. Sedikit munafik emang pikiranku, memanglah ini saat yang tepat untuk korupsi, namun hal itu jika aku lupa dengan akhirat dan uang yang berkah. Persis seperti kata Wali Band: jadi kaya ngapain, kalau gak berkah pkirin-pikirin. Uang berlimpah tapi sering nambrakin orang, sering keluar masuk Balai Rehab narkoba. Secara cepat tu-uang dipastikan habis, padahal perjuangan untuk mendapatkanya taruhanya nyawa. Nyawa dibalas Nyawa mungkin ini istilahnya.

Perdebatan sengitpun kembali kudapatkan saat bersama raja debat dari Arab. Asal kamu tahu yah dek. Kenapa banyak tilang liar dan gak bisa diberantas itu karena atasnya juga minta jatah (saling peras dunk pikirku) walapun tidak langsung terus terang. Kamu piker mudah dapat kerjaan, kamu pikir murah biaya semua itu (aku dipelototin, ni orang kecil-kecil matanya besar juga.hehee), mungkin dia salah satu anakan polisi tidur yang sedang curhat (tidur aja nyusahin). Ini lagi masalah, nyogok jadi budaya. Pasti yang baca postingan ini bilang : Kamu masih muda nak, gak usah munafik.

Persis seperti kata-kata diatas : Kamu masih muda nak, gak usah munafik sambar para sesepuh untuk mempersingkat diskusi, dalam pekerjaan nanti kamu Cuma dihadappin 2 pilihan, di mutasi karena cerewet/banyak protes kaya adik-adik mahasiswa sekalian (nunjuk mukaku), atau duduk manis dan pulang membawa gajih buat anak istri.


TAGS Pejabat Bawahan


-

Author

Follow Me